Jangan takut, percaya saja!

Ada dua kondisi yang kontras namun juga serupa. Ini yang menarik dalam perikop ini, setidaknya bagi saya pribadi. Kontras karena ada perbedaan posisi sosial di masyarakat, antara Yairus sebagai kepala rumah ibadat dan seorang perempuan yang berstatus sosial terendah karena penyakit pendarahan yang menyebabkan dia tidak diterima.

Kesamaannya adalah ada harapan dari iman kedua orang ini. Harapan yang terbesar kepada Yesus. Harapan ini muncul karena iman percaya sepenuhnya kepada sang punya kuasa. Dari dua orang yang berharap tersebut, Yesus meresponnya. Inilah yang memunculkan pertanyaan saya: iman seperti apa yang menjadikan Allah merespon pengharapan kita. Dari kisah ini, tentu bukan iman yang biasa-biasa saja, namun iman yang sangat besar tertuju pada Allah. Bagaimana mungkin memiliki iman tersebut? Sementara saya aktif dalam kegiatan pelayanan di beberapa tempat? Apakah menjadi penting kegiatan pelayanan tersebut, jika tidak diiringi dengan pertumbuhan iman yang semakin kuat kepada Yesus sang Anak.

Dengan cerita pada perikop ini, kita ditunjukkan bahwa Allah tidak membedakan antara Yairus sang kepala rumah ibadat yang mungkin dikenal sebagai orang suci ataupun perempuan yang hina di masyarakat. Semuanya sama kedudukannya dihadapan Allah. Allah tidak membedakan antara yang aktif dalam pelayanan kepadaNya ataupun yang tidak. Namun dalam hal ini, yang dilihat adalah iman kita. Allah sangat kenal kita. Sekalipun mungkin kita terkenal suci, terkenal aktif pelayanan di lingkungan kita. Sekali lagi, Allah tidak memandang kondisi itu penting dan dapat mempengaruhi bagaimana Allah merespon pengharapan kita.

Satu hal penting yang harus ditumbuhkan adalah iman yang semakin dewasa dalam pengenalan kepada Allah. Hal yang sama bisa kita lihat pada perempuan yang sakit pendarahan. Dalam kondisi paling terpuruknya, pengharapan akan penyembuhan dari Yesus telah menumbuhkan iman percaya kepadaNya yang luar biasa kuat dan fokus. Perempuan tersebut tidak peduli pada apa yang ada di sekelilingnya. Dia sangat fokus pada Yesus. Inilah yang menjadi penting tentang iman seperti apa yang harus kita miliki. Dan Yesus menyembuhkan secara total perempuan itu, baik jasmani ataupun jiwanya, dan bahkan strata sosialnya.

Hal yang serupa ditunjukkan pada sikap iman Yairus. Saat pertama kali menemui Yesus, dengan imannya yang besar dan fokus pada pengharapan kepada Yesus. Namun saat perjalanan menuju rumahnya, perjalanan tersebut terhenti oleh respon Yesus terhadap perempuan yang menyentuh jubahNya. Pada saat ini, gangguan terhadap fokus dan pengharapan Yairus kepada Yesus bisa jadi terganggu. Apalagi ketika sampai di rumahnya, banyak orang yang memberikan tanggapan yang justru melemahkan imannya. Dalam kondisi ini, Yesus sangat memahami kondisi Yairus. Dan apa yang menjadi perkataan Yesus kepada Yairus menjadi penting “Jangan takut, percaya saja!” (ay. 36).

Yesus menginginkan agar Yairus tetap fokus pada pengharapan yang didasari dari imannya. Yesus sangat peduli dengan pengharapan dan iman kita. Dan dari sanalah, Yesus akan menanggapi kita dan sekaligus menyembuhkan secara total kita untuk menjadi anak-anakNya yang mencirikan sebagai garam dan terang dunia. Bagi saya, inilah yang menjadi penting dalam kehidupan kita sebagai pengikut Yesus Kristus.

Bacaan: