Jangan Takut – Allah kontrol kehidupan

Kematian Kristus itu mengejutkan dalam hidup para murid dan pengikut Kristus. Tetapi kebangkitan itu jauh Lebih mengejutkan. Menengok ke kubur dan menemukan Yesus yang terbaring itu lebih mudah untuk dipahami, dibandingkan menemukan kubur yang kosong dan malaikat yang berkata ‘Yesus bangkit’. Kesedihan bisa diselesaikan sendiri dengan waktu yang berlalu, semua kedukaan karena kematianNya bisa dikontrol sendiri; dibandingkan menemukan Yesus yang bangkit. Melalui kebangkitan itu kita belajar bahwa Allah menunjukkan KONTROL atas hidup ini ada padaNya.

Kebangkitan Yesus ditandai dengan teologi kitab-kitab apokaliptik dan teologi Teofani yang khas, di mana para murid perempuan bertemu Malaikat dan peristiwa alam yang hebat. Ucapan “Janganlah Takut” ayat 5, menjadi sapaan awal Malaikat Tuhan pada para Perempuan dan juga dikatakan Yesus, “Jangan Takut” ayat 10.

Berita kebangkitan oleh malaikat itu membuat perempuan-perempuan bergegas pergi dengan 2 rasa : takut dan sukacita yang besar.
Perkataan “Jangan Takut” adalah perintah yang paling banyak muncul dalam Alkitab. Pdt. Lloyd John Ogilvie seorang Pendeta Gereja presbiterial di Amerika mencatat 366 perintah “Jangan Takut” dalam alkitab. Artinya setiap hari perintah ‘Jangan takut!’ itu adalah perintah Tuhan untuk kita hidupi. Rasa takut itu membuat kita berhenti untuk tidak lagi melangkah dan melakukan sesuatu yang baik yang biasa kita lakukan selama ini. Yesus tahu bahwa rasa takut itu telah membuat semua muridnya berhenti dan memilih pergi ke kubur serta ruang-ruang terkunci. Mereka tidak lagi hidup dengan pelayanan seperti yang mereka selama ini lakukan Bersama Yesus. Dengan semua ini perintah ‘Jangan Takut!’ Adalah perintah yang penting buat hidup kita sebagai murid Kristus. Henry David Thoreau berkata : “Tidak ada perkara yang lebih pantas untuk ditakuti selain ketakutan itu sendiri.”

Bagian menarik dalam sapaan Yesus ketika menyapa murid-murid perempuan yang berlari cepat-cepat adalah Tuhan Yesus menyapa dengan “SALAM bagimu” ay.9. Kata yang dipakai Yesus adalah ‘KHAIRETE’ bukan ‘Irene’ seperti dalam penampakan kepada para murid di Injil Lukas. ‘Khairete’ bukan hanya berarti ‘salam bagimu’, tetapi bermakna: BERSUKACITALAH! Yesus menghentikan murid perempuan yang bergegas berlari, supaya mereka tidak hanya segera menjumpai murid yang lain untuk bersaksi. Tetapi mereka mesti berjumpa dengan Yesus sendiri secara langsung. Sehingga ketika mereka kembali berlari untuk bersaksi pada murid yang lain, mereka tidak mudah bimbang sedikitpun dalam berita kebangkitan. Agar hidup kita tidak sering tinggal dalam kebimbangan, maka kita mesti berjumpa dengan Yesus setiap hari sebelum menjalani hidup kita sehari-hari.

Kebangkitan menunjukkan bahwa Allah memegang kontrol atas segala hal yang terjadi dalam hidup kita. Dan kontrol Allah itu menghadirkan SUKACITA-KHAIRETE bagi hati dan hidup kita dalam melewati segala persoalan. Matt Chandler mengatakan demikian “HATI dari MASALAH-MASALAH hidupmu adalah MASALAH dalam hatimu.” Selesaikan masalah didalam hatimu : ketakutan, keraguan, kemarahan, kebimbangan, dan lainnya, dengan PERCAYA dan mengalami Yesus sendiri. Maka iman pada Yesus itu akan berkata kepada hatimu “BERSUKACITALAH!”

Kenapa Galilea? Ayat 7,10. Sebuah pertanyaan untuk kita renungkan.

  1. Tuhan genapi apa yang dikatakanNya sebelum kematian.
  2. Mengembalikan para murid kepada panggilan mula-mula. Kematian Kristus membawa para murid ingin me-reset hidupnya kembali dengan pekerjaan mereka yang lama – ‘kita mulai dari NOL lagi.’ Kebangkitan mengajar kita melanjutkan hidup bersama Kristus setelah melewati masa kesunyian dalam kematianNya.

Bacaan: